√ Keterampilan Berpikir Kritis - Mr. Adiis

Jumat, 13 Maret 2020

Keterampilan Berpikir Kritis

problem solving, diskusi kelompok, mengerjakan latihan
Berpikir dapat didefinisikan sebagai suatu proses kognitif, yaitu suatu kegiatan mental untuk memperoleh pengetahuan. Dalam proses berpikir terjadi kegiatan yang kompleks, reflektif dan kreatif. Kemampuan berpikir dapat dikembangkan dan diperkaya dengan memperkaya pengalaman yang bermakna. 

Keterampilan berpikir dapat dikelompokkan menjadi keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills) dan keterampilan berpikir tingkat rendah (lower-order thinking skills). Keterampilan berpikir tingkat tinggi meliputi pemecahan masalah, pembuatan keputusan, keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif. Keterampilan berpikir tingkat rendah meliputi ingatan, pemahaman, dan penerapan (Pohl dalam Kurniati, et al., 2016). 

Berpikir dasar (basic thinking) merupakan kemampuan memahami konsep, mengenali sebuah konsep ketika muncul dalam sebuah seting pembelajaran. Proses berpikir dasar merupakan gambaran dari proses rasional yang mengandung sekumpulan proses mental dari yang sederhana menuju yang kompleks. Berpikir kritis (critical thinking) adalah keterampilan berpikir yang menggunakan dasar menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap makna dan interpretasi. Pola berpikir ini mengembangkan penalaran yang kohesif, logis, dapat dipercaya, ringkas dan meyakinkan (Fatmawati, et.al., 2014:901). 

Terdapat berbagai pengertian berpikir kritis. Beyer (dalam Zubaidah, 2010) menawarkan definisi yang paling sederhana: “Berpikir kritis berarti membuat penilaian-penilaian yang masuk akal”. Beyer memandang berpikir kritis sebagai menggunakan kriteria untuk menilai kualitas sesuatu, dari kegiatan yang paling sederhana seperti kegiatan normal sehari-hari sampai menyusun kesimpulan dari sebuah tulisan yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi validitas sesuatu (pernyataan-pernyataan, ide-ide, argumen-argumen, penelitian, dan lain-lain). Facione (dalam Zubaidah, 2010) menyatakan bahwa berpikir kritis sebagai pengaturan diri dalam memutuskan (judging) sesuatu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi, maupun pemaparan menggunakan suatu bukti, konsep, metodologi, kriteria, atau pertimbangan kontekstual yang menjadi dasar dibuatnya keputusan. Berpikir kritis penting sebagai sarana penemuan konsep. 

Beberapa definisi dari berpikir kritis yang dikemukakan oleh para ahli, pada dasarnya dapat di artikan seperti yang dinyatakan oleh Ennis (dalam Zubaidah, 2010) sebagai berikut. 

“ … a unique kind of purposeful thinking in which the thinker: systematically and habitually imposes criteria and intellectual standards upon the thinking, taking charge of the construction of thinking, guiding the construction of the thinking according to the standards, assessing the effectiveness of the thinking according to the purpose, the criteria, and the standards.” 

Dari definisi di atas disebutkan bahwa untuk dapat menghasilkan suatu hasil pikir yang kritis siswa harus melakukan suatu kegiatan (proses) berpikir yang mempunyai suatu tujuan (purposeful thinking), bukan asal berpikir yang sifatnya tidak diketahui apa yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Artinya, walau dalam kehidupan sehari-hari siswa sering melakukan proses berpikir yang terjadi secara otomatis, tetapi banyak pula situasi yang memaksa siswa untuk melakukan kegiatan berpikir yang memang direncanakan ditinjau dari sudut apa, bagaimana, dan mengapa, misalnya bila siswa berhadapan dengan situasi (masalah) yang sulit atau baru. Kegiatan berpikir yang demikian yang dimaksud sebagai berpikir yang disengaja dan bertujuan (intentional and purposeful thinking). 

Suryosubroto (2009:54) mengungkapkan bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Oleh karena itu, indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa, yaitu: (1) mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan, (2) mencari alasan, (3) berusaha mengetahui informasi dengan baik, (4) memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya, dan (5) memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan. 

Splitter (dalam Fatmawati, et.al., 2014) menyatakan bahwa seorang siswa akan memiliki kemampuan berpikir kritis apabila siswa tersebut memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengkonstruksi argumen serta mampu memecahkan masalah dengan tepat. Splitter juga mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan bertanggung jawab yang memudahkan pengelolaan yang baik. Hal ini disebabkan oleh karena berpikir kritis (1) didasarkan atas suatu kriteria, (2) bersifat introspeksi diri, (3) membuat orang peka terhadap keaadaan. Orang yang berpikir kritis secara sadar dan rasional berpikir tentang pikirannya (metakognisi) dengan maksud untuk diterapkan pada situasi yang lain. 

Berpikir diperlukan oleh setiap individu untuk menghadapi suatu permasalahan. Dengan berpikir kritis, seseorang dapat mengatur, menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki pikirannya sehingga dapat bertindak lebih cepat. Seseorang yang berpikir kritis dapat merumuskan permasalahan dengan tepat, mampu mengumpulkan informasi yang relevan, kemudian secara efektif dan kreatif memilah-milah informasi tersebut serta memberikan alasan yang logis dari informasi tersebut untuk memecahkan suatu permasalahan. 

Berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir yang menggunakan dasar menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap makna dan interpretasi. Berpikir kritis mengembangkan penalaran yang kohesif, logis, dapat dipercaya, ringkas dan meyakinkan. Dengan demikian, berpikir kritis memungkinkan peserta didik memanfaatkan potensi diri dalam melihat masalah, memecahkan masalah, menghasilkan ide-ide baru, dan mengkomunikasikan ide-ide dengan baik.

Adapun kemampuan-kemampuan yang termasuk dalam keterampilan berpikir kritis beserta indikatornya (Ismaimuza, 2010) ditampilkan seperti pada tabel berikut.



No
Kemampuan yang Diukur
Respon Siswa Terhadap Masalah
Skor
1
Mengevaluasi
Tidak menjawab atau memberikan jawaban yang salah.
0
Menemukan dan mendeteksi hal-hal yang penting dari soal yang diberikan
1
Menemukan dan mendeteksi hal-hal yang penting, tetapi membuat kesimpulan yang salah
2
Menemukan dan mendeteksi hal-hal yang penting serta membuat kesimpulan yang benar, tetapi melakukan kesalahan dalam perhitungan
3
Menemukan dan mendeteksi hal-hal yang penting, dan membuat kesimpulan yang benar, serta melakukan perhitungan yang benar.
4
2
Mengidentifikasi
Tidak menjawab, atau memberikan jawaban yang salah
0
Bisa menentukan fakta, data, dan konsep, tetapi belum bisa menghubungkannya
1
Bisa menentukan fakta, data, konsep dan bisa menghubungkan dan menyimpulkannya antara fakta, data, konsep yang didapattetapi salah dalam melakukan perhitungan.
2
Bisa menentukan fakta, data, konsep dan bisa menghubungkan dan menyimpulkan antara fakta, data, konsep yang didapat dan benar dalam melakukan perhitungan
3
Bisa menentukan fakta, data, konsep dan bisa menghubungkan dan menyimpulkan antara fakta, data, konsep yang didapat dan benar dalam melakukan perhitungan serta menguji kebenaran dari
Jawaban
4
3
Menghubungkan
Tidak menjawab atau memberikan jawaban yang salah
0
Bisa menemukan fakta, data, dan konsep tetapi belum bisa menghubungkan antara fakta, data, konsep yang didapat
1
Bisa menemukan fakta, data, dan konsep serta bisa menghubungkan antara fakta, data, dan konsep, tetapi salah dalam perhitungannya
2
Bisa menemukan fakta, data, konsep dan bisa bisa
menghubungkannya, serta benar dalam melakukan perhitungannya
3
Bisa menemukan fakta, data, konsep dan bisa bisa
menghubungkannya, serta benar dalam melakukan perhitungannya, dan mengecek kebenaran hubungan yang terjadi
4
4
Menganalisis
Tidak menjawab, atau memberikan jawaban yang salah
0
Bisa menentukan informasi dari soal yang diberikan, tetapi belum bisa memilih informasi yang penting
1
Bisa menentukan informasi dari soal yang diberikan, dan bisa memilih informasi yang penting
2
Bisa menentukan informasi dari soal yang diberikan, bisa memilih informasi yang penting, dan memilih strategi yang benar dalam menyelesaikannya, tetapi melakukan kesalahan dalam melakukan perhitungan
3
Bisa menentukan informasi dari soal yang diberikan, bisa memilih informasi yang penting, serta memilih strategi yang benar dalam menyelesaikannya, dan benar dalam melakukan perhitungan
4
5
Memecahkan Masalah
Tidak menjawab atau memberikan jawaban yang salah
0
Mengidentifikasi soal (diketahui, ditanyakan, kecukupan unsur) dengan benar tetapi model matematika yang dibuat salah
1
Mengidentifikasi soal (diketahui, ditanyakan, kecukupan unsur) dengan benar dan membuat model matematikanya dengan benar, tetapi penyelesaiannya salah.
2
Mengidentifikasi soal (diketahui, ditanyakan, kecukupan unsur) dengan benar dan membuat model matematika dengan benar serta benar dalam penyelesaiannya.
3
Mengidentifikasi soal (diketahui, ditanyakan, kecukupan unsur) membuat dan menyelesaikan model matematika dengan benar, dan mengecek kebenaran jawaban yang diperolehnya.
4

Pentingnya melatihkan berpikir secara kritis disebabkan karena berpikir kritis merupakan proses dasar yang memungkinkan siswa menanggulangi dan mereduksi ketidaktentuan di masa datang. Keterampilan berpikir kritis yang dimiliki siswa sangat membantu siswa dalam menentukan informasi yang penting didapatkan, diubah, atau ditaransformasi dan dipertahankan. Pengalaman bermakna yang melibatkan berpikir kritis dapat membantu siswa (1) membuat keputusan yang didasarkan pada evaluasi komponen-komponen yang terlibat, (2) menentukan validitas simpulan, keyakinan, dan opini yang dinyatakan orang lain, (3) melihat keyakinan, perasaan, sikap, dan pemikirannya sendiri yang berkaitan dengan situasi yang ada, dan (4) membiarkan siswa untuk memperkuat gagasan dan keyakinannya serta menentukan sendiri nilai-nilai yang akan dihargainya (Mahmuzah, 2015). 

Menurut Mahmuzah (2015), ada beberapa keuntungan yang diperoleh dari proses belajar mengajar yang memberi penekanan pada keterampilan berpikir yaitu (1) belajar lebih ekonomis, artinya bahwa apa yang diperoleh dari proses pembelajaran akan bertahan lama dalam benak siswa, (2) cenderung menambah semangat belajar, gairah belajar (antusias) baik pada guru maupun siswa, (3) siswa diharapkan mempunyai sikap ilmiah, dan (4) siswa mempunyai kemampuan memecahkan masalah, baik pada saat pembelajaran di kelas maupun dalam menghadapi permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Rujukan:

Fatmawati Harlinda, Mardiyana, Triyanto. 2014. Analisis Berpikir Kritis Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika Berdasarkan Polya pada Pokok Bahasan Persamaan Kuadrat. Jurnal Elektronik Pembelajaran Matematika Vol. 2 No. 9 tahun 2014 hlm. 899-910
Ismaimuza, Dasa. 2010. Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Strategi Konflik Kognitif. Disertasi (tidak diterbitkan). Sekolah Pascasarjana UPI Bandung
Kurniati  Dian, Romi Harimukti, dan Nur Asiyah Jamil. 2016. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMP di Kabupaten Jember Dalam Menyelesaikan Soal Berstandar PISA. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vo. 20 No. 2 tahun 2016 hlm. 142-155
Mahmuzah, Rifaatul. 2015. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP Melalui Pendekatan Problem Possing. Jurnal Peluang Vol. 4 No. 1 tahun 2015 hlm. 64-72
Suryosubroto, B. (2009).  Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Zubaidah, Siti. 2010. Berpikir Kritis: Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi yang Dapat Dikembangkan melalui Pembelajaran Sains. Makalah Disampaikan pada Seminar Nasional Sains 2010 dengan Tema “Optimalisasi Sains untuk Memberdayakan Manusia” di Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya, 16 Januari 2010

Get notifications from this blog